Jumat, Juni 26

’Memilih’ Tidak menjadi Kaya

Jika yang dimaksud kaya adalah berkelimpahan harta-benda, maka bagaimana kita mendapatkannya? Buku-buku mengenai cara cepat atau cara gampang menjadi kaya terbit di mana-mana, beredar di sekitar kita. Tetapi, banyak orang, dan kita berada di antaranya? – masih saja merasa sebegitu susahnya menjadi kaya.



Lalu ada yang memilih bersicepat menyimpulkan bahwa menjadi kaya adalah urusan nasib. Kerja keras? Banyak orang miskin bekerja lebih keras daripada orang kaya. Juga, kalau pinter mengatur keuangan adalah kunci utama untuk menuju pintu gerbang kekayaan, boleh kita lihat betapa banyak orang bisa menyeramahi orang lain mengenai teknis pengelolaan keuangan yang ternyata lebihmiskin daripada yang diceramahi.

Tampaknya, orang menjadi kaya dengan dukungan sekian banyak faktor, dan memang, tak boleh disepelekan adalah faktor nasib itu. Faktor kesempatan juga. Kalau sudah terlahir dari keluarga kaya-raya ternyata kemudian tumbuh menjadi orang miskin, itu soal nasib juga.

Kekayaan, sekali lagi kekayaan harta-benda, telah kita pandang sebagai segala-galanya. Dan di pihak lain, memang, kemiskinan adalah persoalan terberat bangsa kita. Sampai-sampai dalam sebuah debat cawapres beberapa waktu lalu keluar pernyataan lebih-kurang begini, ’’Apa pun ideologinya, kalau rakyat sejahtera tidaklah akan timbul banyak masalah.’’

Nah! Sejahtera. Anggapan bahwa kesejahteraan adalah sesuatu yang tidak mungkin tumbuh di dalam kemiskinan pastilah mengandung lebih banyak kebenaran. Tetapi, seperti juga ditunjukkan banyak lakon sinetron, dan kehidupan nyata para kayawan dan kayawati (untuk menyebut orang-orang yang berkelimpahan harta) mengajarkan kepada kita bahwa kesejahteraan juga bisa mengerdil di tempat yang sangat jauh dari kemiskinan.

Maka, sungguh terburu-buru mengambil pilihan ini: menikah dengan orang kaya setelah Yang Mahakuasa menentukan kita lahir di dalam keluarga yang tidak kaya, dengan maksud untuk mendapatkan kehidupan yang lebih sejahtera. Nah, ini lagi. Ternyata sejahtera itulah yang berada di tataran yang lebih tinggi dari sekadar kekayaan. Artinya, orang memimpikan kekayaan untuk mendapatkan kesejahteraan. Jadi, impian terakhir kita sebenarnya adalah kesejahteraan. Dan kalau kalimatnya diperpanjang adalah: … kesejahteraan dunia-akhirat.

Ada seorang teman yang buku tabungannya sudah sedemikian tebal, tetapi ia masih saja gelisah mengenai masa depannya. Banyak hal yang membuatnya gelisah, yang membuatnya tidak bisa merasa cukup nyaman dan bahkan cukup aman dalam menapaki kehidupan ini. Sedangkan teman lain yang saldo tabungannya kira-kira hanya cukup untuk membuka warung pulsa kecil-kecilan setelah pulang kampung kelak ternyata lebih ceria.

’’Saya merasa senang bisa melihat anak-anak menyelesaikan sekolah mereka dengan baik, salah seorang di antaranya sudah sarjana malah. Saya sungguh bahagia melihat orangtua saya merasa bahagia, dan selalu merindukan saya. Saya tidak pernah menghitung berapa dolar kukirimkan kepada mereka. Saya tidak pernah berpikir apa yang akan menjadi balasan bagi saya kelak. Saya hanya tahu hidup saya sungguh berarti bagi mereka, dan bagi diri saya sendiri. Saya percaya kepada Yang Mahamengatur. Dan tak pernah sedikit pun saya merasa khawatir bahwa saya akan menjalani hari tua yang menyedihkan. Saya menikmati. Saya senang dengan buku tabungan saya yang tipis, saldo yang jika saya sebut untuk orang yang mengetahui telah berapa tahun saya mengais dolar di negeri orang ini pastilah tidak akan dipercaya.’’

Begitulah kira-kira apa yang ada di benak kawan kita yang sudah merasa sejahtera sebelum menjadi kaya itu. Maka, kalau tidak menjadi kaya, kenapa? [nde]

terus »»

Senin, Mei 25

FSJ-D 2009 Diundur ke: 04 – 05 Agustus 2009

Festival Sastra Jawa dan Desa yang semula akan digelar 17 – 18 Juni 2009, karena mbarengi Ujian Sekolah, ditunda ke: 04 – 05 Agustus 2009. Mengapa begitu jauhnya rentang penundaan itu? Sungguh susah mencari “hari baik”, maksudnya yang benar-benar leluasa. Ini pekerjaan bersama, melibatkan beberapa sanggar sastra Jawa dan setidaknya dua Jurusan Bahasa Jawa (Unesa dan Uness).


Juni ini Pak Tiwiek SA (Tulungagung) punya hajat menikahkan putrinya. Juli ganti Daniel Tito (Sragen) yang punya hajat dan mengharap pula kehadiran kawan-kawan pengarang sastra Jawa. Kawan-kawan di Jogja juga ada sibuk terkait FKY. Nggoleki dina longgar dadi sangsaya angil tenan! Njuk ketemulah lagi ing Agustus 2009. Muga-muga ora mengkeretke semangate sing padha arep rawuh. Nuwun. []

terus »»

Kamis, Mei 21

FSJ-D 2009 DIUNDUR PELAKSANAANNYA

Mohon maaf, baru ketahuan bahwa tgl 17 -18 Juni di Trenggalek sedang dilakukan Ujian Sekolah SD/SMP dan karena tim repotnya adalah Dinas Pendidikan dan Dinas Poraparibud, Trenggalek, dengan ini diputuskan untuk mengundur waktu pelaksanaan Festival Sastra Jawa dan Desa 2009 (sekalian ke bulan Agustus), setelah selesai gawe nasional pilpres. (Slengekan: Jadi, kalau ada capres/cawapres mau urun sumbangan tidak tampak rame pamrihe, hehe).


Hal-hal mengenai tetek-bengek berkait penundaan ini akan diselesaikan dengan LEBIH CEPAT LEBIH BAIK serta api semangat, grengseng, dan tekad untuk menggelar FSJ-D 2009 tetap LANJUTKAN!

Calon pesereta akan segera dikirimi undangan lengkap dengan tanggal/waktu yang baru.

Mohon dimaklumi,dimaafkan.

Demikian, terima kasih.

PANITIA
FSJ-D 2009
www.nglarankita.blogspot.com
www.ppsjs.blogspot.com
sastrajawa@yahoo.com

terus »»

Kamis, Mei 7

Menggagas Hadiah Sastra Jawa

Sangat ironis, hadiah paling bergengsi untuk Sastra Jawa justru diberikan oleh Yayasan Rancage (Sunda). Artinya, orang ’luar jawa’ ternyata justru lebih (memihak) jawa daripada orang jawa sendiri. Acara penganugerahaan Hadiah Rancage pun selalu ditunggu-tunggu sebagai acara terhormat bin bergengsi bukan saja oleh para sastrawan Sunda,melainkan juga oleh sastrawan Jawa, Bali, Lampung.



Ke mana orang jawa yang sebenarnya punya cukup modal untuk menyelenggarakan pemberian hadiah, bukan saja untuk sastra, melainkan untuk sosok-sosok yang bisa dinilai memiliki prestasi di bidang pelestarian dan pengembangan nilai-nilai budaya Jawa?

Ini persoalan kemauan, sama sekali tidak menyangkut kemampuan. Maka:

[1] Mari kita sidangkan melalui bursa pendapat (boleh menulis opini yang panjang) melalui milis sastrajawa@yahoogroups.com atau kirim ke email sastrajawa@yahoo.com, atau ada saran untuk saluran lain? Di sini kita bisa berdiskusi, kalau perlu berdebat, apakah ’hadiah’ itu perlu, penting, atau bahkan tak akan bermanfaat samasekali.

[2] Nanti, jika simpulannya adalah: hadiah itu penting, mari kita bersama-sama mengingatkan pemerintah daerah (Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur) yang menaungi masyarakat (dan kebudayaan) Jawa untuk mengagendakan pemberian hadiah itu.

[3] Jika Pemerintah Daerah (seperti tersebut pada no 2) tidak memberikan respon positif terhadap usulan pemberian hadiah itu, bolehlah kita bentuk sebuah komunitas, organisasi, atau apa, untuk mengimpun dana perorangan semampunya, hingga gagasan yang pernah dengan susah-payah dimulai pelaksanaannya (menawarkan proposal) oleh Pak Parto (Suparto Brata), Pak Tamsir AS (alm.), dan Pak Esmiet (alm.) di awal 90-an itu bisa terwujud.

Sebagai bahan pertimbangan, perlu diketahui bahwa Pemerintah DIY, Jateng, Jatim, sejak 1991 memiliki agenda 5 tahunan bernama Kongres Bahasa Jawa. Konon, KBJ IV (Semarang, September 2006) digelar dengan dana tak kurang dari Rp 5 milyar. Nah, kalau setiap tahun kita bisa menilai 5 orang paling berprestasi di ranah kebudayaan Jawa, dan memberikan hadiah dengan nominal Rp 10 juta/orang (konon nominal Hadiah Rancage Rp 5 juta/orang), berarti kita perlu anggaran dana (kalau bisa dari pemerintah) Rp 50 juta/tahun. Catatan: Dana untuk acara seremonialnya bisa dicarikan dari sponsor (?). Jika ditanggung oleh 3 pemerintah daerah, berarti masing-masing daerah hanya perlu mengeluarkan tak sampai Rp 20 juta/tahun atau Rp 100 juta dalam 5 tahun.

Maka, secara pribadi, kalau saya boleh memilih:
[a] pilihan I: keduanya, baik pemberian hadiah maupun Kongres Bahasa Jawa berjalan seirama.
[b] pilihan II: kalau harus memilih salah satu, KBJ dibekukan saja!
Bagaimana pendapat Anda?

[Bonari Nabonenar]

terus »»

Rabu, Mei 6

Ketika Budayanya Digempur Habis-habisan di Mana Sastrawan Jawa?

Oleh: Siti Aminah dan Bonari Nabonenar*

Seperti halnya data kependudukan umumnya, tidak ada data pasti mengenai jumlah orang Jawa saat ini. Namun, beberapa sumber menyebut 40% - 45% penduduk Indonesia yang berjumlah kurang lebih 235 juta ini adalah etnis Jawa. Sebagian besar dari mereka tinggal di pedesaan dan menjadikan pertanian sebagai tumpuan hidup utama.



Tidak berbeda dengan sektor lain, sektor pertanian juga tak lepas dari agenda ekonomi-politik global. Revolusi Hijau merupakan sebuah contoh bagaimana mesin ekonomi-politik globabal menggilas pertanian di Indonesia, termasuk Jawa. Sebagai bagian dari paham modernisasi, Revolusi Hijau yang masuk ke Indonesia sebagai pelaksana teknis developmentalisme ini bukanlah program pertanian semata, melainkan sebuah strategi melawan tradisionalisme. Inilah untuk pertama kalinya dalam sejarah, beragam pengetahuan pertanian manusia di muka bumi mengalami penggusuran besar-besaran dan dijadikan satu pola pertanian saja.

Program modernisasi pertanian didukung oleh lembaga-lembaga penelitian besar seperti International Rice Research Institute (IRRI) di Filipina dan International Maize and Wheat Improvement Center (CIMMYT) di Mexico. Saat ini di dunia terdapat 13 lembaga riset sejenis yang dikelola dan dikembangkan oleh The Consultative Group for International Agricultural Research (CGIAR) yang merupakan tulang Revolusi Hijau.

Akibat dari program ini ribuan varietas tanaman tradisional tergusur. Lebih parah lagi, petani menjadi tergantung pada industri benih dan tak lagi mampu mengontrol serta mereproduksi benihnya sendiri. Benih telah berubah menjadi sumber kentungan dan kontrol karena di tangan lembaga penelitian dan perusahan-perusahaan transnasional benih merupakan komoditi komersial.

Bukan itu saja. Revolusi Hijau ternyata juga menjadi sebuah program untuk menyingkirkan atau melemahkan pengetahuan rakyat. Budaya pemuliaan benih dibabat habis sebagai bentuk kontrol penguasaan pasar. Bahkan, tak jarang petani yang dengan pengetahuan tradisionalnya melakukan pemuliaan benih sendiri dituntut ke pengadilan dengan tuduhan melakukan pembenihan ilegal (kasus Mbah Suko Magelang, Suprapto dan Tukirin). Selain itu Revolusi Hijau juga telah menggusur perempuan dari aktivitas mereka di sektor pertanian. Tipe padi dan teknologi baru yang dikenalkan secara sistematik mengabaikan dan menggusur peran perempuan. Dengan demikian budaya pertanian Jawa sebenarnya telah dimatikan.

Jawa, Pangan, dan Kedaulatan
Dalam hal pangan, negeri kita penuh ironi. Sebagai sebuah negeri dengan tanah yang subur, kaya keragaman hayati, serta sebagian besar rakyatnya hidup dari pertanian, mestinya pangan tidak menjadi masalah di sini. Namun, kenyataannya setiap tahun ada saja persoalan kelangkaan pangan dan kelaparan. Bahkan, ketergantungan Indonesia terhadap produksi pangan impor, terigu, berbagai jenis buah, dan bahkan beras masih cukup tinggi.

Dalam kenyataannya, kelaparan bukan semata kelangkaan sumberdaya dan teknologi, melainkan sebuah pilihan politik baik nasional maupun global. Negara dapat mengambil keputusan politik untuk memastikan warga negaranya tidak lapar dengan menghidupkan kembali keberagaman dan pengembangan pangan berdasarkan keunggulan lokal.

Banyak kasus kerawanan pangan di Indonesia mengacu pada tercukupinya persediaan beras di suatu wilayah. Jika acuan kecukupan pangan tetap saja digantungkan pada beras, mungkin bangsa Indonesia akan terus dihantui kerawanan pangan karena tidak semua wilayah di Indonesia menghasilkan beras. Bahkan, di Jawa yang memiliki produktivitas padi tertinggi di Indonesia (5,2 ton/Ha) tidak semua daerahnya dapat ditanami padi sepanjang tahun. Sementara kecukupan pangan telanjur ditambatkan pada satu komoditas saja: beras.

Berasisasi yang berjalan seiring dengan Revolusi Hijau bukan saja memunculkan kerawanan pangan, melainkan juga menghabisi kekayaan hayati negeri ini. Berbagai tanaman pangan lokal (umbi-umbian) punah karena dihakimi sebagai sumber pangan yang tidak bergizi. Ketika kerawanan pangan berkali-kali menjadi ancaman, wacana kembali ke pangan lokal baru mulai dimunculkan. Telanjur rakyat terbiasa dengan beras, sehingga gerakan kembali ke pangan lokal ini tidak cukup mendapat tempat. Apalagi gerakan ini hanya dilakukan setengah hati karena beras sudah menjadi komoditas baik pengadaan benih maupun perdagangannya. Dengan demikian masyarakat Jawa telah kehilangan kedaulatan pangannya.

Di Mana Sastrawan Jawa?
Ketika entitas budaya Jawa mengalami gempuran habis-habisan seperti itu, di manakah para sastrawannya? Dua majalah berbahasa Jawa yang menjadi media tumpuan ekspresi para sastrawan Jawa masih terbit secara teratur (masing-masing sepekan sekali) yakni Jaya Baya dan Panjebar Semangat. Menariknya, kedua majalah berbahasa Jawa itu terbit di Surabaya, bukan di Surakarta atau Yogyakarta. Masing-masing memuat sebuah cerpen dalam setiap edisinya, memuat satu, dua, atau beberapa guritan (puisi), dan cerita bersambung yang biasanya tamat dalam 10 hingga 20 kali pemuatan.

Setelah perbukuan di jagad Sastra Jawa mengalami masa keemasan pada tahun 70-an (dengan banyaknya buku picisan berbahasa Jawa), dan kemudian surut hingga nyaris senyap, kini buku-buku karya sastra berbahasa Jawa mulai menggeliat. Setidaknya ada buku yang diterbitkan setiap tahun karena dirangsang oleh hadiah tahunan yang diberikan oleh Yayasan Rancage. Dan yang tak boleh dilupakan adalah tekad seorang Suparto Brata untuk membiayai sendiri penerbitan buku-buku berbahasa Jawa-nya dari honor/royalty buku-buku berbahasa Indonesia-nya.

Artinya, sastra Jawa (modern) belum mandeg. Tetapi, apakah ia benar-benar menjadi jurubicara yang bagus untuk masyarakat pendukungnya atau seperti ’’gadis manis, sekarang iseng sendiri’’** (?) itulah salah satu pertanyaan yang sebaiknya terjawab pula oleh FSJD 2009 nanti.[]

*) Siti Aminah adalah pekerja komunitas, pengarang novel berbahasa Jawa Singkar, tinggal di Yogyakarta. Bonari Nabonenar, Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa, Ketua FSJD 2009.
**) dari sajak Chairil Anwar Cintaku Jauh di Pulau


Surabaya Post, Sabtu, 2 Mei 2009

terus »»
 
© free template by Blogspot tutorial